Aku selalu merasa menjadi manusia yang paling sempurna di dunia ini, karena cinta dari abah, umi, kaka, dan keluarga besar. Bisa melakukan apa pun, dan menggapai cita-cita besar yang aku inginkan dengan sangat mudah, apalagi kekuatan yang paling sempurna dibandingkan kesempurnaan cinta dari sebuah keluarga? dan untuk itulah aku merasa selalu bersyukur menjadi aku yang terlahir dari keluarga yang sangat sempurna, kasih sayang dan cintanya...
Namun hidup ada masanya, dan inilah masa lima bulan, aku kehilangan sosok Abah yang akan selalu melekat dalam hati, ia yang selalu memberikan cinta yang paling sempurna, sampai aku tidak peduli dengan siapa pun, punya atau tidaknya kekasih, sahabat, teman sekali pun aku tidak peduli, karena Abah sudah sangat memperhatikanku, jadi untuk apa?
Meski Abah tidak lagi ada, masih ada umi, teteh, aa, dan semua keluargaku, tapi tahukah? jujurnya, jahatnya, aku benar-benar kehilangan setengahnya dari seluruh jiwaku, harapanku, cintaku. Entah kenapa, aku sangat mencintai Abah melebihi cintaku kepada siapa pun, bahkan sekali pun seorang Ibu yang biasanya paling dicintai oleh putra putri di seluruh dunia, bahkan putri selalu lebih dekat dengan ibundanya. Dengan alasan yang tidak sama sekali diperbolehkan, aku lebih mencintai abah....
Ini mungkin, abnormalitas yang tidak termaafkan, tapi ini kejujuranku. Ya Allah maafkan kealfaanku ini.. Tapi aku sekarang mulai belajar mencintai umi, bunda satu-satunya, orang tuaku satu-satunya yang aku miliki saat ini.
Semenjak abah pergi, aku jadi merasa hidup sendiri di dunia ini, tempat dimana aku meminta, menceritakan segalanya udah gak ada lagi. Dan itu artinya, aku harus nanggung semua perasaanku sendiri. Bahagia, tidak bahagia, ini soal ceritaku. Termasuk bagaimana kamu bertahan, dan melanjutkan semua kehidupan.
Kini, putri kecil Abah yang manja ini, harus belajar menjadi anak dewasa yang kuat, dan super duper tangguh, mandiri, dan lagi-lagi mampu bijaksana dalam menjalani hidup. Karena sekarang, tanggungan itu ada di tangan aku sendiri. Ayah yang merupakan tumpuan segalanya, dan sudah lebih dulu pergi, dan itu artinya, semua ada dibawah pilihanmu sendiri.
Dulu aku kuat, sangat kuat saat masih dengan Abah, tapi sekarang tanpa Abah sekali pun, aku seharusnya lebih kuat, kuat dan kuat meraih semua mimpi, menjalankan planning hidup demi umi, teteh, aa. Membahagiakan umi umi dan umi, teteh lagi lagi teteh, aa dan semua keluarga besarku.
Ara bisa, Ara pasti bisa sekuat dulu, mencapai cita-citanya, meskipun tanpa Abah. Ini sudah berjalan lima bulan, dan sudah saatnya, kamu kembali hidup, hidup yang sebenarnya, bahagia yang sebenarnya, bukan hanya kepura-puraan demi menutupi apa yang kamu rasain. Jangan terlalu lama menangis dalam diam, tapi bangkitlah, bukitiin ke Abah, kalo Putrinya yang manja ini, pasti bisa jadi gadis dewasa yang tangguh, mandiri, dan hebat.
Ara, hadirkan cintamu, buka hatimu, untuk cinta sempurana lainnya yang ada, di depan mata. Masih ada Umi, Teh Irma, teh Iya, Aa dan Teh Nur, semua keponakanmu yang harus kamu bahagiakan. Terutama Ibunda tersayang.
*As you know, hampir setiap malam di dua minggu terakhir ini, aku gak pernah kelewat mimpiin Abah, mungkin karena saking rindunya kali yaaa. Atau ada pertanda lain, firasat lain, entahlah, aku gak paham.
Abaah, aku janji, aku bisa berubah, jadi putri dewasa yang tangguh, mandiri dan hebat, untuk bahagiain umi, teh irma, teh iya, a gocep, dan teh nur, semua keponakan-keponakanku. :))))
Aku janji Bah :)
Aku harus bisa, di bulan ke 6 ini!!!
Komentar
Posting Komentar