Still Wait



Ada yang datang dan selalu ada yang pergi, berganti-ganti mengisi masa yang harus tetap terlewati. Dengan orang yang baru, sama bahkan berbeda, membentuk kisah dengan episode-episode yang terduga dan tidak sekali pun terpikirkan. Ada senyum, tawa , bahagia dan juga air mata. Jika tawa maka ia dipahami sebagai bahagia, tapi jika tangisan maka ia adalah kesedihan. Terlalu banyak rasa yang disediakan, tapi Tuhan memberikan kita keleluasaan untuk memilih. Memilih semua yang ada dan yang terjadi sekarang adalah hasil sebab dari pilihan-pilihan tersebut.
Bagaimana jika pilihanku adalah menunggu? Mengabaikan waktu yang datang berganti hari demi hari, Kepada waktu yang tak pernah bosan menyapaku setiap kali aku membuka mata, semoga saja kau tak pernah bosan. Ia sudah seperti teman yang selalu duduk bersebalahan, setiap kali ia datang dengan mentari yang menyapa, maka aku pun senantiasa membalasnya dengan senyum keyakinan, bagiku yakin juga merupakan pilihan sederhana yang akhirnya menciptakan kebahagiaannya sendiri yang tidak terlihat menghapus semua asa dan ragu yang abu-abu. Yakin menjadi obat akan ketika ketidaktahuan pada sebenarnya apa kita harapkan dari masa depan.
Dan satu-satunya yang aku yakini dia akan tetap datang. Meski kembali tadi, tak pernah ada yang tahu bagaimana masa depan itu. Bagiku menunggu menjadi keyakinan yang sederhana, meski jalannya seringkali dibayar dengan pengorbanan yang tidak mudah, tapi ini tentang pilihan bukan?  Sekali pun hanya ada sesal di akhir, karena Kekecewaan dan luka adalah akibat dari sebuah pilihan dan sebab tapi senyuman adalah pilihan rasa untuk memilih menjadi jiwa yang besar. Maka jalani semuanya dengan bijaksana.
Ini bukan tentang rasa dan luka, tapi sebuah perjuangan meyakinkan bahwa keyakinan itu ada. Meski semua dirasa berat, tapi pilihan menjadikan keyakinan sebagai rasa yang membuatnya tetap rasa bahagia.

Komentar