Rain? Mungkinkah kau adalah hujan yang sama, menerpa bumi dengan air
bening yang halus dan lembut. Berbau debu jalanan yang khas, bak coffee hangat
yang masih beruap di atas cangkir putih. Ada bunyi hentakan tetesannya, seperti
rekorder yang memutar rekaman yang serupa, ketika kau memanggilku dalam masa
kering, musim panas, masa lalu. Diam-diam aku mengagumi dalam tanyaku kepada
dawai alam, seindah itukah kesamaan dalam anganku? Rain, hujanku?
Meski di
detik yang sama, ada takut yang tertutup. Tidak mampu menyentuhmu dengan jari
jemariku dan Di awal terang matahari tiba, menandakan bahwa tidak ada lagi
wujudmu dalam angkasa, Kau akan mengalirkan semuanya ke muara yang jauh entah
berantah, dan itu artinya, berhenti-usai.
Namun
senyumku tipis tergores, kau tidak benar-benar meninggalkanku tanpa jejak Rain, karena kau masih membekas dalam
dinding kaca. Menyiratkan embun-embun putih yang halus, seperti sebuah buku
hingga aku bisa menuliskan namamu meski tidak ada lagi hujan.
Bagiku kau
tetap hujan yang dingin, tapi Rain
hangat lekat dalam ingatan, mengkristal dalam kenangan. Dan Jika kamu benar adalah Rain-hujan-ku, maka hujan bagiku selalu
sama, tidak pernah takut berhenti atau bahkan mengalir meninggalkan ke muara
terdalam. Karena semua indera merekam yang sama, dari bunyinya, baunya, bahkan
ia pun juga berjejak, membekas.

Komentar
Posting Komentar