Memaksa kasih selamanya selalu sama, pada beberapa titik waktu ia akan menjadi jenuh. Merusak hijaunya daun hingga menjadi buruk, melemahkan rantingnya hingga batang, menuju kokohnya akar. Hingga tumbang. Memaksa kasih, tidak dikehendaki alam menjadi ciri khasnya. Ia terlalu anggun untuk menjadi panggung.
Kala musimnya, ia harus gugur, melepaskan kasih ikatannya kepada sang pohon. Karena begitulah Kata dalam buku panduannya. Rela tidak rela ia bahagia. Siapa yang tahu. Ketidaksukaan terkadang hanya menjadi ilusi pikiran kita sendiri. Dalam sepersekian detik, Ia lepas, melayang, bergesekan dengan angin. Mengikuti irama hembusannya kemana dia akan diletakan di titik paling tepat. Dan tanah adalah tempatnya kemudian. Kembali.
Gugurnya meninggalkan jejak, terus berkepanjangan. Jika ia ditakdirkan di tanah yang sama, berlepas dirinya akan menyuburkan Sang Pohon. Bersama dengan unsur hara ia menjadi pupuk yang menghidupi hari demi hari.
Dalam moment yang sama, ia tetap bersama, meski caranya berbeda. Saat ini memang tidak lagi saling menempel. Namun kini ia menyatu. Menumbuhkan dan menghidupkan selamanya.

Komentar
Posting Komentar