Setelah
sekian lama berjalan di siang hari, kaki menjadi lemah, punggung rasanya semakin berat, dan seluruh persendian mulai terasa sakit hingga sulit sekali
untuk bergerak maju, bahkan untuk kembali berdiri tegap. Saat itu otak langsung
meminta semuanya untuk berhenti bekerja, tapi hati terus merongrong berkebalikan, memaksa semuanya untuk maju dan terus maju, sekalipun dirinya sudah tersakiti oleh yang tidak
terlihat. Karena iya bilang, ini belum waktunya, tunggulah malam yang akan
datang sebentar lagi. Bolehlah kamu beristirahat.
Hingga
tibalah malam dimana semua bisa tertidur lelap. Aku menyandarkan bahu pada
tembok yang nyaman untuk rehat sejenak. Sungguh ini menyenangkan, malam
membuatku berhenti berjalan, rasanya tidak ingin lagi melihat siang hari yang melelahkan. Tapi tidak
lama dugaanku salah, kelelahan itu sebenarnya tak benar-benar berakhir, karena bahkan
di saat malam yang gelap gulita, otak masih bekerja, sehingga seringkali memutar semua mimpi buruk yang datang
silih berganti. Sekali lagi. Semakin melelahkan yang tidak terlihat.
Hingga
esok hari kembali tiba dan ia membangunkan tidurku dengan sinar jingga merah mudanya.
Lagi-lagi aku harus melihat matahari dan siang hari yang melelahkan. Namun saat
aku membuka mata dan menatapnya tajam, ia seolah berbicara “Hai lihatlah! Aku kembali hadir,
meski tidak ada yang pernah tahu seberapa lelah aku menyinari kalian dengan
seluruh tenagaku. Maka aku kira, untuk apa kalian merasa lelah berjalan, jika
jalanmu menyisakan jejak-jejak berlian yang membahagiakan orang lain. Maka tak
ada pilihan selain kau terus berjalan. Karena tidak akan ada yang bisa menghentikan
langkahmu selain persedian berlian yang tidak lagi tersisa karena waktu masa
hidupmu yang sudah habis.”
Aku
tertegun, tak mampu memejamkan mata, malah semakin lama manatapnya, mencoba
mendengar kata-kata apa lagi yang ingin ia sampaikan. Barangkali, mataku bisa meresapi lebih sebagai bekal semangatku untuk kembali berjalan hari ini. Seketika, kaki, tangan, jiwa dan raga
utuh seperti baru. Tanda siap, untuk kembali berjalan selagi siang hari masih
panjang dan kesempatanku untuk menaburkan berlian di setiap jejak masih terbuka
lebar.
Maka
untuk kamu yang larut dalam malam, luka dan kesedihan, bukalah mata, dan lihatlah
kesempatan yang hadir saat fajar bersinar. Ia menyambut bahagia yang baru, mencairkan mimpi buruk yang mengendap
sepanjang malam, dan mengelupaskan sisa-sisa luka batin karena hati yang lemah.
-The photo is taken at Pare, 31 Ausgust 2013-

Komentar
Posting Komentar