Separuh asa


Asaku tak sampai pada akhir, dia bak benih yang malu mengeluarkan kecambah pada tanah yang meski subur nan rindang akan pupuk. Hujan air mata dan badai kehidupan menguji keseriusannya untuk tumbuh dan berkembang. Akankah ia lapuk bersama dengan gerusan-gerusan erosi buruknya ‘kata’ orang lain. Ataukah semakin tumbuh kedalam menuju akar bumi. Tak tersentuh. Maka itu adalah pilihan. Sebagaimana aku menyisakan separuh napas ini untuk menghidupi benih asa agar ia tetap bisa bernapas, meski bisa jadi Tuhan tidak menganugerahkannya jalan pernapasan. Namun sekali lagi itu adalah pilihan. Walaupun kelak ia menjadi rinai asa yang akan menggunung menjadi benih-bebih harapan yang tak hendak disampaikan oleh tanganNya. 

Komentar