Aku
mudah lupa, maka kusimpan kebersamaan kita dalam tulisan, agar tinta mengukir
abadi sejarah supaya tidak hilang terbawa zaman. Kutulis kisahnya di atas batu gunung yang
kekar mengakar, agar ia membekas lama, tidak seperti pasir pantai yang mudah terbawa
angin dan juga ombak lautan. Kususun satu persatu, hingga kini ia telah menjadi
kumpulan buku-buku kenangan.
Aku
mudah menangis, maka kutangkap kebersamaan kita dalam sebuah gambar foto. Agar ia
tidak mudah luntur oleh air mata. Paling tidak, ia hanya sedikit berdebu, ketika
kau membersihkannya, gambarmu akan kembali bersih dan manampilkan wajah yang sama.
Kususun satu per satu, hingga kini ia telah menjadi kumpulan album-album
kenangan.
Namun
kau menyulutnya dengan kayu bakar ketidaksetiaan, hingga aku ingin membakar
semua album-album itu dengan api kekecewaan sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Namun sayang, kau sudah mengunci rapat rak-rak nya dengan harapan dan
angan-angan yang telah kau janjikan.
Beriringan waktu, semua berjalan seperti
biasa, karena aku mudah lupa dan tidak lagi mempertanyakan dimana kau simpan
kunciku. Hingga suatu ketika, tanganku sendiri yang ceroboh menjatuhkan rak itu
hingga semua album kenangan berhamburan keluar tepat di depan mata. Darah
kenangan yang sudah terlanjut membeku, kini meleleh oleh rindu, kemudian ikut
mengalir bersama peredaran darah menuju ke jantung. Kini ia berdenyut, berirama
tidak karuan.
Tidak
akan ada yang pernah bisa merubah kenyataan yang telah terjadi pada masa lalu,
meski kau bakar hangus album itu, karena masih ada sisa-sisa abu hitam dengan
baunya yang tidak sedap meninggalkan jejak. Kini aku tidak lagi mencoba membakarnya
atau menghilangkan album-album itu, tapi membiasakan diri untuk tidak lagi mengkambinghitamkannya
dengan ketidakbijaksanaanku sendiri yang tidak berhasil memperbaiki masa lalu.

Setiap cerita yang telah berlalu akan menyisakan kenangan. Semua adalah pilihan, pilihan untuk melupakan atau merindukan.
BalasHapusKereeen ara, udah semakin bagus pemilihan kata katanya.. Mangaat dek