Tidak terasa,
kini wajahmu semakin keriput dilukis oleh beban pikiran. Begitu juga dengan
kakiku yang semakin berat karena tak kuat menahan cobaan. Tapi lihatlah kita selalu
bergenggaman tangan dengan komitmen persahabatan, saling menguatkan dan
mengukuhkan jalan yang hendak kita lalui bersama menuju akhir keabadian.
Aku tiupkan tanda tanya ke langit yang
penuh dengan bintang, tentang arti dalam kebersamaan. Katanya coba lihat kami yang
selalu bersinar bersamaan, tidak seperti bulan yang bersinar dengan
kesendirian. Ia bilang, bersama adalah cara kami menghias langit kehidupan, dan
meski mereka kecil bagai pasir, kekompakannya untuk sama-sama bersinar membuat
mereka menguatkan sinar yang satu dengan yang lain. Memeriahkan malam yang sepi
dan sunyi dalam keheningan.
Dan begitulah kuharap kebersamaan
kita bagai bintang yang bersinar
Kala itu aku sedang berada di bawah
sebuah pohon yang rindang, tanpa aku tanyakan pada tanah, ia tahu maksudku yang
hendak bertanya tentang arti dalam kebersamaan. Katanya coba rasakan ini, tiba-tiba
buah ranum yang segar menguggah rasa, sudah berada di genggaman tangan. Katanya
dalam kebersamaan itu bagaikan pohon iman yang menjulang dan menghasilkan
buah-buahan yang ranum dan segar. Maka pupuklah ia dengan sisa-sisa kompos kesombongan
yang telah diperas habis oleh ketaqwaan.
Dan begitulah kuharap kebersamaan
kita bagai buah ranum yang sega
Maka semua esensi adalah kembalikan
pada alam. Bagaimana hutan yang damai meski ditinggli berbagai macam makhluk
hidup dengan kesamaan dan perbadaan yang beraneka macam. Dan begitu juga
tentang esensi dalam kebersamaan. Karena bukan kesamaan yang mempertahankan kebersamaan,
tapi kelapangan hati untuk saling memahami jutaan perbedaan.
Oh waktu, adakah yang bisa
memisahkan kebersamaan yang berbalut iman dan taqwa ini?
“Maka Nikmat TuhanMu lagi yang
manakah yang kau dustakan?”

Tidak ada perbedaan dalam persamaan, tidak ada kata sendiri dlam kebersamaan. Perbedaan adalah warna dalam persahabatan.
BalasHapus