Ramadhan Yang Berbeda



Semilir angin malam berhembus kencang menerpaku. Dingin menusuk ke dalam raga. Membekukan jiwa yang khusyuk dalam sujud tarawih pertama. Ramai terdengar suara anak-anak berlarian, namun terasa hanya ada aku bersama suara-suara alam. Dingin tapi hangat, ramai tapi sepi, membeku akal, tapi meleburkan Qalbu. Seakan semua sibuk bertasbih, memuja dan memuji Tuhannya dalam bunyi-bunyi yang tidak terdengar. Berucap syukur, Alhamdulillah. Marhaban Ya Ramadhan, kini aku masih bisa berjumpa denganmu. Mukenaku telah basah karena kelu, Menangis dalam hening saat aku mengingat semuanya, tentang ramadhanku yang kini berbeda.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda jauh dengan ramadhan-ramadhanku sebelumnya, bagiku Ramadhan  kali ini tetap menjadi saat-saat terbaik untuk berkumpul, momen terindah untuk meluapan rasa cinta dan syukur atas nikmat yang tiada pernah terkira. Kebersamaan yang diridhai Allah dalam naungan rahman dan rahim yang sempurna. Pahala dan kebaikan yang berkali lipat, dan dosa yang mudah diampuni. Satu bulan yang penuh berkah ini membuat siapa pun tidak ingin berpisah dengan bulan Ramadhan. Dan aku selalu merasa sempurna di setiap ramadhanku, karena kehadiran Ummi, Abah, dan semua kakak-kakakku. 
Namun ternyata kini berbeda, menjalani Ramadhan pertamaku tanpa kehadiran seorang ayah. Hanya ada Ummi tanpa Abah. Tapi semuanya tetap sama, rasa cintaku, sayang kami, dan kehadirannya yang masih terasa ada dalam setiap saat, sejak aku terbangun, saat sahur, berbuka, hingga menjalankan shalat isya berjamaah di masjid. Maka sesungguhnya tidak ada perbedaan yang berarti.
Aku tak ingin berliput duka, kecewa, atau kehilangan yang berlebihan, tapi justru sebaliknya mengucap agung karena Allah masih memberikanku rasa cinta yang tidak berkurang sedikit pun kepada Abah meski tidak ada lagi Ia dalam nyata.
‘Abah ngga pergi, karena Abah selalu ada di hati kamu’
Allah menyayangi hambaNya dengan caraNya, dan aku harus belajar menikmati semua cara yang dikehendaki. Karena Allah tidak pernah salah memberikan takdir, itu adalah yang terbaik meski terkadang ditanggapi dengan rasa kecewa dan kehilangan, tapi sesungguhnya tidak akan pernah hilang rasa cinta seorang anak kepada ayahnya dan begitu pun ayah pada anaknya. Aku akan selalu mencintai Abah dengan baktiku menjadi anak yang shalehah, dan Abah akan selalu mencintaiku dengan mendoakanku dari jauh sana.  
Ramadhan, semoga keberkahanmu menguatkan kami yang ditinggalkan, dan menempa diri kami untuk terus bertambah cinta dan taat kepada Mu. Meski kini berbeda, semoga Ramadhan kali ini tetap lebih baik.


Komentar