Bilakah itu rindu




Ketika kamu berada dalam keramaian, tapi kamu merasa sendiri, itu menyakitkan, Ketika mereka terseyum kepadamu, dan kamu pun harus membalasnya, namun senyumanmu itu hanyalah senyum keterpaksaan bukan karena sebuah ketulusan. Itu adalah bohong yang sangat naïf. Ketika kamu menjalankan banyak hal, namun tidak ada satupun yang dirasa bermakna, karena semua yang dilakukannya, hanya untuk menghabiskan waktu dan menggugurkan rutinitas, bukan karena cinta yang ingin diberikan kepada sesama? Menjadi penyesalan selamanya.
Mungkin itu adalah rindu, yang membuatmu terlihat baik, tapi sebenarnya tidak. Bagaimana bisa, rindu membuatmu terperosok jauh kedalam kesakitan, padahal rindu adalah seberkas rasa yang menyenangkan dari jutaan rasa yang telah dianugerahkan oleh Allah, menjadi sebuah kenyataan  dari wujud cinta yang tersimpan. Karena rindu, cinta semakin bersemi saat pertemuan, saling mengungkapkan rasa cinta dalam setiap pelukannya. Tapi sayangnya rindu juga sekaligus kenyataan yang menyakitkan kerena ia adalah wujud kehilangan. Ia bisa menjadi sakit menahun yang tidak terlihat. Hingga tidak sadar, bahwa telah banyak darinya yang bertambah hilang.
Ia terlalu pandai menyamar, membuat banyak orang tidak menyadari bahwa ia sedang merindu. Seperti hujan yang berada dalam sinar matahari. Bersinar, tapi mendung, kering, tapi sebenarnya basah, dan samar-samar.
Karenanya aku luluh lantak, hingga hati tak mampu lagi merasa dengan baik. Ia hanya menjadi organ yang kini ressistant dengan rasa-rasa kehidupan. Baginya semua rasa adalah hambar. Dan pikiranku hanya terpenuhi dengan pertanyaan, kapankah aku bisa bertemu?


Komentar