Banyak yang hilang



Aku tidak bisa menulis, meski ku paksa  ia untuk menulis. Ada apa dengan aku ini? Bukankah aku sudah merancang target menyelesaikan novel selama liburan ini? Namun kenapa jariku tidak bisa mengetik satu pun? Kini aku merasa sakit. Terlalu banyak yang hilang, pergi......
Aku merasa sepi, rindu, dan juga kecewa. Cinta? kemanakah ia yang biasanya selalu aku rasakan? Aku dibiarkan tertatih menjalankannya sendiri. Aku rindu abah, cinta abah yang selalu membuatku merasa sempurna dengan cinta seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, Kehadiran abah membuatku kuat tanpa kehadiran cinta yang lain. karena abah memberikannya dengan begitu sempurna.
Sejak aku tumbuh menjadi seorang remaja hingga saat ini, detik ini, tidak ada satu pun laki-laki yang mendekatiku, memberanikan diri bertanya, bahkan memberikan perhatian layaknya masa remaja yang penuh dengan cinta. Aku menutup diriku dari orang-orang yang menggantikan peran abah dalam memberikan perhatian padaku. Aku akan sangat ilfeel pada mereka yang sok-sok perhatian, meski aku ngga tahu setulus apa mereka menyayangiku. Aku sudah merasa cukup, dengan cinta abah.
Lalu bagaimana kini? Saat abah sudah pergi untuk selamanya, dan membawa cinta satu-satunya yang aku punya, akankah aku masih menjadi Mutiara yang sekuat dulu? Bahkan aku takut melakukan banyak kesalahan setelah rasa kehilangan yang begitu menyakitkan karena Aku telah terbiasa hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun saat ini setengah dari itu hilang dan aku harus berjuang sendirian.
“Araa, tetaplah sama menjadi Mutiara yang dulu, berjanjilah untuk tetap tangguh menjadi anak Abah. Kamu pasti bisa, melewati saat-saat tersulit ini, ya mungkin kamu hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan kondisi kamu sekarang. Percayalah selalu ada Allah yang mencintaimu Ra, bukankah ia pemiliki cinta yang sejati? Kamu ngga akan pernah merasa hampa, sepi, karena ada Allah yang selalu mencintaimu. Maka hanya Ialah yang berhak kamu cintai. Biarkan mereka dengan kehidupannya, caranya, dan kamu dengan caramu menjalani hidup ini. Cinta akan selalu ada, karena kamu masih selalu mencintai Abah, dan begitupun Abah yang masih selalu mencintaimu tanpa kamu sadari. Bukankah namamu adalah Mutiara, perhiasan mahal yang dihasilkan dari rasa sakit yang berkepanjangan, maka bagaimana pun rasa yang kau alami, berbesarhatilah menjalani hidup ini meski sesulit apa pun. Terbetuk dan menjadi perhiasan mahal yang dicintai oleh orang-orang di sekitarmu.” (Ucapan dari diri sendiri)


Komentar