Bagaimana menyembuhkan
luka yang tak juga kunjung kembali membaik? Semakin lama, waktu membuatnya
terbungkam, menjadi luka yang semakin dalam. Dihantui rasa rindu yang tak bisa
terlihat. Tak bisa diraba, dan bertemu dalam nyata. Andaikan ia bisa berkata,
semua menjadi bias, abu-abu, dan hanya ada kebohongan pada orang lain. Tidak
pernah ada yang benar-benar tahu bagaimana dengan ini. Jika rindu bisa
membuatnya semakin mencinta, rinduku semakin terasa sakit. Dan yang bisa
kulakukan hanya memutar film-film masa laluku bersamanya. Tentang ingatan-ingatan
cerita tentang aku dan sosoknya. Tentang apa yang aku punya, bersamanya. Tapi
sayang, itu membuatkau semakin merindu, Rindu, yang tak bisa lagi bertemu dalam
nyata.
Ya Allah, Aku
tidak bertanya, mengapa harus aku, mengapa harus saat ini, dan mengapa harus
Dia yang pergi. Aku hanya bertanya mengapa aku tak bisa sekuatnya. Membiarkan
orang-orang disekitarnya pergi tanpa tangisan, karena Ia tahu, bahwa inilah
jalannya. Jika Ia melihatku sekarang, mungkin Dia akan memarahiku dengan cinta
dan rasa takut.
Tentangnya,
maka lihatlah buktinya. Ia yang mendidik aku dan keempat kakaku hingga sebesar
sekarang, mengajarinya dengan keras, hingga kami menjadi orang-orang yang
belajar kuat untuk hidup. Ia yang membuatku merasa sempurna menjadi seorang
anak kecil, dan juga selalu dianggapnya anak kecil. Menciumiku, mengusapiku,
dan membuatku merasa tak pernah butuh sosok laki-laki lain di dunia ini. Karena
Ia telah memberikanku segalanya, cintanya, meskipun Ia seringkali mencintaiku
dengan rasa takut yang tidak pernah aku mengerti. Takut jika aku terluka, jika
aku pergi.
Dan selama Ia
sakit, aku baru merasakan bahwa takut itu melelahkan, tapi sekarang aku tidak
lagi merasa takut, karena rasa telah berganti menjadi kehilangan, menjadi rasa
rindu yang tak bisa lagi bersapa dalam senyumnya, pelukannya, usapannya, dan
panggilannya padaku.
Aku
mencintainya, menyayanginya, dan semua rasa yang tak terdiskripsikan,
bersamanya aku menjadi kuat, namun Ia tahu, aku pun kuat jika ditinggal dalam
kesendirian. Karena Allah tak pernah salah memilihkan jalan. Aku memang
mencintainya, tapi aku tahu Allah lebih lebih mencintainya. Maka untuk apa aku
masih memeluknya dalam keegoisanku. Berikan, berikan saja padaNya yang
memilikinya. Aku, hanya berkesempatan menjadi darah dagingnya, didikannya,
bukan untuk memilikinya. Karena semua ini hanyalah titipan.
“but remember,, the best thing is unseen.
Love is unseen, Allah is unseen, and our Dad is unseen” (Bunga Vanadia)
Abah…..Aku, umi, teteh dan aa sayang sama
abah, tapi Allah lebih sayang Abah.
Rindu akan menjadi rasa selamanya, dan Doa
membuat kita bisa selalu bertemu kapan pun, tidak terpisah jarak, dan
perbedaan. Menjadi pemikat cinta antara aku, Allah, dan Abah.
-Minggu, 24 Mei 2015. RSHS-
ah araaaaaaa :'(
BalasHapusmutii :"""""(
BalasHapusاللهم اغفرله ورحمه وعافه وعف عنه
BalasHapusTulisannya bagus2 dek.
BalasHapus