Biarkan aku
mengerti, mengapa aku tak merasa takut berjalan di bawah guyuran hujan sejak
saat itu. Hujan yang kini meninggalkan tetesan embun bening.
……………..
Aku
tidak menyukai hujan, bukan hanya karena airnya yang basah tapi juga membuatku
seringkali mengingat sesuatu yang telah lama dilupakan, bagiku hujan hanya
membawa kesedihan. Tapi sejak saat aku mengenalnya, Semua berubah.
Dialah
laki-laki pertama yang mengajarkan aku tentang hujan, hingga aku jatuh cinta
dengan hujan untuk yang pertama kalinya. Lelaki aneh yang sering kulihat di
halte tempat biasa aku menunggu hujan reda. Laki-laki yang terus berjalan
bagaimana pun derasnya hujan di waktu kapan pun, siang, bahkan menjelang malam.
Dia tetap saja berjalan. Entahlah mungkin ada yang aneh dengannya. Semua orang
berhenti, sedangkan dia tidak, dan bisa kulihat dari matanya, ada binar sejuk
yang sulit untuk diungkapkan.
Entah
kenapa sore ini hujan tak kunjung reda bahkan sudah hampir dua jam aku
menunggu, dan sebentar lagi langit berubah gelap. Angkutan umum tak juga
kunjung lewat, dan hanya ada aku di sini. Tiba-tiba aku
melihat laki-laki aneh itu berjalan di depan halte. dan ia menoleh, berdiam
sejenak, entah apa yang ia lihat. Tak lama, ia pun berjalan menuju ke arahku.
“Masih
ngapain di sini?” Tanyanya heran sambil merapikan rambut yang basah berantakan.
“Ga liat ngapain? Ya nunggu hujan redalah” jawabku ketus siapa dia
tiba-tiba menanyakanku. “Percayalah, hujan mungkin baru akan
benar-benar reda esok hari” balasnya tenang. “Kamu ga mau pulang? Sudah ga akan
ada kendaraan yang akan lewat halte ini” timpalnya lagi. Aku pun mulai merasa
takut, bagaiamana jika laki-laki itu benar? Membuatku diam berpikir. “Ya sudah
kalo kamu masih mau disini menunggu hujan reda, tunggu saja, aku akan kembali
berjalan” dia mulai melangkah untuk keluar halte.
“Tunggu!!”
aku berteriak. Dia pun menoleh, “aku.. aku… ta..kut….” Tak berani melanjutkan
kata
“Air
hujan?” dia melengkapi kalimatku. Dan aku hanya mengangguk.
Cepat
ke sini! Sambil mengeluarkan jaketnya yang masih kering. Gunakanlah untuk
menutupi kepalamu. Mau ambil, atau aku meninggalkanmu sendirian di sini.
Semoga semuanya baik-baik
saja, rasa tukut itu, semoga semuanya baik-baik saja. dengan terpaksa aku mengambilnya.
Jika masih ada waktu untuk menunggu aku masih akan menunggu di sini, tapi
sayang aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Aku mulai mengikuti
langkah kakiknya, merasakan perlahan-lahan air hujan itu membasahiku. Dan aku
terus melihat diriku sendiri. Mulai gelisah.
“Sudahlah,
itu hanya air, nanti juga akan kering” komentarnya. “Kau, adalah laki
laki paling aneh yang pernah kulihat” jawabku. “Kenapa? Karena aku berjalan di
saat hujan?” jawabnya dengan senyuman. “Iya apa lagi jika bukan itu? “Kau tidak
tahu apa-apa, begitu menyedihkan jika aku menjadi wanita seperti kamu"
jawabnya. "Siapa kau berani-beraninya merendahkanku?" tangan dan
bibirku mulai gemetaran. "
"Aku
suka hujan, karena di saat itulah aku bisa menyemar. Kau bebas melakukan apa
pun tanpa orang lain sadari, air hujan hampir sama dengan air mata, maka kau
bisa menangis tanpa orang lain mengetahui bahwa kau menangis, dan bahkan
berteriak sekali pun, orang lain tak akan dengan jelas mendengarnya. Dinginnya
membekukan luka, agar ia tak semakin membesar" sambil menarik tanganku
untuk semakin mendekat, kemudian menggenggam dan menggosok-gosokan nya yang terasa mulai membeku supaya tetap hangat. Aku membiarkannya karena lagi-lagi tak ada pilihan. Ia pun
melanjutkan kata-katanya. "Kau, terlalu sibuk dengan ketakutanmu itu, tapi
terlalu egois untuk terlihat kuat di depan orang lain. Pandai-pandailah
berbohong pada orang lain tentang dirimu, tapi jangan lakukan itu pada dirimu
sendiri. dan lebih baik kau lepaskan jaket penutup kepala mu itu! karena kita
akan berlari, melewati hujan dengan tangan seperti ini. Dia mulai melebarkan
kedua tangannya.
Berlarilah,
biarkan air itu cepat meninggalkan lukamu dan mengalir menuju ke laut. Kami pun
mulai berlari pelan, melebarkan tangan, dan menengadahkan kepala keatas,
membiarkan tetesan hujan menyentuh wajahku.
Dia
menoleh ke arahku, sekedar memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku pun bebas
tersenyum, karena dia tak akan mampu melihat senyumanku. Air hujan telah
cukup membuyarkan pandangannya. Biarkan aku membohongimu, tapi tidak pada
diriku sendiri.
..........
Air
hujan meleburkan kata dan rasa yang tak terungkap, melarutkan semua rasa yang
berbeda, dan mengalirkannya ke tempat yang sama. Aku tidak lagi takut sekarang,
bahkan aku jatuh cinta, pada hujan dan padanya yang telah membuatku jatuh
cinta.

Komentar
Posting Komentar