Fajar yang terlambat



Ketika cinta datang terlambat, meninggalkan penyesalan yang tak berarti, maka berdamailah dengan rasa yang ada, dan buat ia menjadi mengerti bahwa rasa cinta adalah kebahagiaan yang harus terungkap. Bukan diam dan akhir yang menyedihkan. 
.................

Langit berwarna jingga kemerahan, membentuk siluet-sileut tak beraturan di bentangan langit yang masih menyisakan bulan dan serpihan bintang-bintang. Melihat sedikit ke bawah, aku bisa melihat milyaran cahaya lampu berkilauan bak permata. Belum lagi udara puncak gunung yang dingin menusuk, bersama dedaunan yang bergoyang samar menyempurnakan detik-detik menjelang fajar.  Tidak jauh dari tempat sujudku, tiba-tiba aku melihatnya beranjak pergi, aku pun segera merapihkan mukena dan sajadah perlengkapan shalatku, tidak ingin moment sunrise kali ini berakhir bergitu saja. Saat aku hendak berdiri, tiba-tiba ada yang menyelimutiku dan berkata dengan lembut “Pakailah dek, udara pagi ini lebih dingin dari biasanya” tanpa sempat ku balas, ia kembali berjalan menuju tenda. Aku tersenyum namun tak sempat melihat matanya, hanya merasakan tangannya yang jauh lebih hangat dari tanganku.
Aku berjalan menuju ketepian, duduk di undakan tanah, dan tiba-tiba ingatan itu kembali, bayangan sosok laki-laki 3 tahun silam, dimana untuk yang pertama kalinya aku jatuh cinta, namun segera aku menepis bayangan itu.  Aku membetulkan jaket tebalnya, tiba-tiba ada amplop merah kecil yang terjatuh. Aku pun segera mengambilnya, senyumku tipis, Ah Kaa, kau tak pernah lelah membuatku jatuh cinta.
Kepada yang mencintai fajar.
Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat pagi Sahara,  saat kau sedang membaca suratku, kupastikan kau sedang menikmati moment sunrise di puncak gunung seperti biasanya. Ya aku masih benar-benar ingat bagaimana kau begitu menyukai sinar kemerahan menghiasi langit saat kita mendaki bersama untuk pertama kalinya. Kau bercerita bagaimana merahnya langit dan paduan puncak gunung selalu membuatmu jatuh cinta. dan aku senang mendengar semua cerita-ceritamu hingga tidak terasa matahari telah sempurna menghiasi pagi hari. Menyadari, bahwa kita memang menyukai hal yang sama.
Fajar, membuat kebersamaan kita indah, meski kita tidak saling mengerti tentang semua kebersamaan itu, dan hingga suatu saat aku mengerti, tentang sebuah rasa yang berbeda. Aku jatuh cinta denganmu, dan begitu pun kau kepadaku. Namun kini aku terlambat, membiarkan kau terlalu lama menunggu, aku pun benar-benar tak mengerti mengapa cinta sesulit itu. Aku hanya menyimpannya dalam kebersamaan kita tanpa pernah ingin kau tahu, hingga suatu saat aku berjanji akan datang kepadamu di waktu yang tepat. Tapi lagi-lagi diam telah membawaku pada ujung penyesalan yang tidak ada artinya.
Kau tahu? Setiap kali sinar pagi menembus langit-langit kamarku, mewarnainya dengan kenyataan masa depan yang baru, aku berharap hari kemarin telah berganti menjadi masa depan yang baru, namun tak pernah ada kesempatan. Karena kaulah Sang Matahari itu. Bagaimana pun aku berlari menjauh matahari ia akan terus menciptakan bayangan pantulanku sendiri. Berilah aku waktu, sedetik saja, untuk Kau tahu bahwa aku menyesal telah membuatmu menunggu.
Aku, telah mencintaimu dalam ketidaktahuanmu, biarkan kini waktu yang menguji seberapa banyak waktu yang telah terlalui dalam ketidaktahuan akan langkah yang tertuntun. Tentang aku dan juga hidupmu yang baru.
Maafkan aku sahara, maafkan aku yang telah mencintaimu dalam diamku, dan terutama atas kelancanganku ini, aku sadar, aku tidak berhak mengatakan ini. Namun jika aku tidak melakukan ini, aku akan menjadi pembohong sepanjang hidupku. Dan jika kau bersedia sampaikan salamku pada Ka Fahmi, Ia laki-laki yang mengerti bagaimana melindungi seorang perempuan dengan kelembutan tutur lakunya,
Semoga Kau dan Ka Fahmi selalu dalam lindungan Allah SWT Sang Maha Pencipta.
Wassalam
-Arkam-
…………..
Kau datang terlambat, aku memang mencintaimu, tapi tidak dengan sekarang dan selamanya. Aku melipat kertas surat dengan tetesan air mata yang membasahi amplop merah itu. Dan tak lama aku merasakan rangkulan tangan mendekapkan badanku ke bahunya. Membiarkanku menangis dalam diam.

Komentar

Posting Komentar