Pelangi di puncak mangalayang

Akhirnya tanggal itu tertoreh dalam sejarah hidup ku, Minggu 10 agustus 2014. Menjadi pertama kalinya aku menapaki mimpi di puncak gunung, dan merekalah yang mewujudkannya, keluarga pelangi. "Dan tiada daya dan upaya semata-mata karena Allah yang maha rahman dan rahim yang menakdirkan itu"

Dengan perdebatan panjang, dan keegoisan ku memaksakan kalian untuk memenuhi obsesi pribadi ku, tanpa melihat kenyataan bahwa itu sulit, Tapi ternyata, kalian begitu baik, sabar, dan pada akhirnya semua tetap terlaksana, meski hanya berdelapan dengan semua keterbatasan yang ada. Ya walaupun aku sempat kecewa mengapa hanya kita berdelapan, tapi ternyata jumlah yang sedikit itu tak membuat ku kehilangan arti perjalanannya sedikit pun. Aku bersama kalian, mendaki bersama, dan itu sempurna!

Disuasana senja kala itu, kita mulai mendaki, mengejar sunset di puncak sana, dan semoga sampai tepat waktu. dan... ternyata jalur pendakian manglayang benar benar curam apalagi untuk aku yang pemula. Alhasil sepanjang pendakian memaksa kami harus merangkak, haha atau sepertinya hanya aku saja yang merangkak, kalian tetap tegak berdiri naik, untungnya peluh keringat tak terasa karena udara sore yang dingin. Memberikan kedamaian tersendiri pada kami yang telah pegal-pegal, capek, tapi semangat bukan semakin luntur, yang ada selalu bertambah disetiap langkah kaki yang semakin menuju puncak.

Semakin tinggi kamu berdiri, semakin indah mata, semakin lelah juga yang dirasakan, semakin tak sabar pula untuk segera di titik tertinggi. Itulah filosofi gunung (setidaknya itu menurutku)

Tidak terasa 2 jam perjalan manapaki curamnya gunung manglayang, akhirnya, aku, sampai. Untuk sejenak, mulut menjadi terkunci dan refleks, aku memeluk mutia teman ku,'tiii ahirnya aku ada di sini, di puncak gunung' sambil mata ini mencari cari kalian, dan tersenyum, 'terima kasih' itu yang setidaknya ingin aku katakan saat itu, tapi sepertinya detik ini tak ada yang ingin diganggu. 17.58. Dan aku berdiri di puncak ini :')

coba lihat, ada pelangi yang melingkari sinar bulan yang begitu terang di atap langit semesta malam ini! Supermoon. Luar biasa bukan? Sinar bulan yang sempurna cahayanya, dan biasan pelangi yang melingkarinya. menyinari perjalanan pulang kami. Menyatu!

Meskipun ending cerita ini harus ditutup dengan jalan kaki selama 3 jam karena tidak ada satu pun kendaraan, Mungkin Allah ingin hari ini tak segera berakhir, begitulah aku mencoba berbaik sangka, dan ara fikir disitulah cerita yang sebenarnya, bagaimana bahwa semua bisa terlewati meskipun telah berada dalam puncak kelelahan. Tapi toh kita sukses melewatinya, jalan melewati beberapa desa, ditengah2 malam yang sunyi dan dingin, dan beberapa kali lolongan binatang itu. Dan akhirnya sampai dengan selamat di depan kosan ara :)

Percayalah dibalik semua perasaan ara saat itu, semuanya tetap indah. Kalian membawaku ke puncak :) dan itu cukup membayar semua kelelahan.

Terima kasih kang puncak manglayangnya :)
.........

Biarkan setiap langkah kaki dan setiap kejadiannya, tak perlu ku tulis hingga detail, biarkan setiap kita cukup mengenangnya sendiri dengan kenangan indah kita masing-masing, dan kata kata ini? hanya sedikit dari sebuah rasa syukur dan sebuah rasa terima kasih yang bisa kuberikan pada kalian

Untuk kang azhari, ketua yang sabar menanggapi anggota seperti ara yang keras kepalanya, tidak sabaran, dan banyak hal lainnya, walaupun pada akhirnya dengan semua keterbatasan, kita tetap berangkat. Juga buat kang liliek, dan kang azhari juga yang pasti bete berada paling belakang dari kami, karena ara yang jalan seperti siput. buat kang arif yang ga bosen2 nya nanya, 'ara ga kenapa2?' Saat berkali-kali aku terjatuh, dan bahkan jadi seserodotan saat turun gunung, karena sepertinya ketualaran ara yang jalan didepannya, haha maaf kang..dan makasih udah bersedia jadi juru kamera perjalanan kali ini. Juga buat kang ilham yg sabar waktu ara panggil, kang ilham...kang ilham tunggu... karena ara yang berjalan sangat lambat saat turun di puncak gunung, dan juga buat kang adin yang ga bosen2nya bully ara, haha tapi sukses bikin ara pengen ketawa sepanjang perjalanan, dan juga teruntuk dua wanita tangguh, mutia dan anik, anik yang bersedia menjadi bahu untuk ara yang kelelahan, dan bahkan harus ikut-ikutan jatuh karena sepertinya juga ketularan ara, haha maafkan ara nik, dan mutia yang tetep terlihat kuat depan ara, menjadi penyemangat tersendiri.

Dan maaf karena perjalanan ini, membuat kalian jatuh sakit, Semoga lekas sembuh, dan semoga ga kapok untuk ngajakin ara lagi ke puncak puncak yang lainnya.
.....

Di puncak sana aku melihat semua keindahannya, untuk pertama kalinya, dan ternyata Allah memilihkan kalian sebagai perpanjangan tangan-Nya. Mungkin jika tak bersama kalian, mimpi itu hanya akan ada disini (mununjuk hati) *haha lebay

Bagiku, Gunung tak saja menjadi prestis anak muda, berlaga di puncak gunung, dan terekam dalam kamera, tapi bagi ku perjalanan menuju gunung memberikan sejuta makna yang tak akan bisa kudapatkan selain aku membuktikannya sendiri dengan kaki ku, dan mata, bahwa semua ini luar biasa.

Mak nikmat Tuhan Mu lagi yang manakah yang kamu dustakan..


Komentar

  1. "The future belongs to anyone who believe in the beauty of their dreams "
    As crazy whatever it is, it could still believe the dream 'You will definitely become a reality' sooner or later!
    #ThePowerOfTheDreams

    NUNUY NURAENI 19th YEARS OLD, AUGUST 14th 2014

    BalasHapus

Posting Komentar