Aku adalah pemimpi bukan pengangan-angan


"haha (sambil tertawa sinis) ganti, ganti! ibu ga suka kamu kaya gini, kamu cuma buang-buang waktu kamu! tahun lalu aja anak CI ga ada yang dapet, apalagi kamu!"
"yah Bu, please bu, boleh ya bu, biarin aja saya ambil fakultas ini dua-duanya, gapapa ko, kalo saya ga keterima juga... saya bakal kejar di SBMPTN dan UM"
"terserah kamu aja, tahun lalu aja anak CI yang ga dapet FK (fak kedokteran) di jalur undangan,  malah ngambil fakultas lain yang lebih rendah dari FK di ujian tulisnya"
(salah satu penggalan pembicaraan ku dengan salah satu guru BK pada hari Jum'at yang lalu, (1 maret 2013) saat pendaftaran SNMPTN undangan)
……………….
Aku hanya bisa terdiam, merintih, mencoba menahan berjuta air mata yang rasanya ingin meluap, menyelimuti hatiku yang begitu sakit.
Ya Rabb, apakah sebodoh itu aku dimatanya? apa aku selalu lebih buruk dari anak CI ? seperti akan otomatis, aku ga bakal keterima di FK saat merekapun ga keterimaa di FK. Dan ingin rasanya aku berteriak pada ibu guru BK ku, “Aku bukan mereka yang menurunkan harga diri ditengah jalan, aku akan berjuang hingga tes terakhir UM dengan FAKULTAS YANG SAMA”

Aku sadar bahwa saat itu aku dipandang sebelah mata, atau lebih tepatnya, aku diremehkan, dan rasanya sakit banget. sampe ga kerasa di angkot aku nangis, bener-bener nangis, dan baru kali itu aku merasakan sesakit itu diremehin, tapi untungnya, aku punya kakak dan temen yang membantuku untuk lebih kuat.
..........

Aku tahu siapa diriku, manusia biasa dengan kecerdasan hanya diatas rata-rata, dan yang hanya punya mimpi di hatinya, yang mencoba terus bekerja sama dengan kecerdasan yang terbatas itu untuk bisa tetap berdiri tegak dan bersanding dengan mereka yang punya kecerdasan yang superior, yang harus berusaha lebih, dan lebih dari mereka, hanya agar minimal, aku bisa menyamainya. belum untuk mengunggulinya, dan jika itu yang aku mau, aku harus mengikatkan lebih keras lagi mimpiku, dan bekerja lebih dan lebih lagi. jika dilihat mungkin akan sangat miris. tapi itulah adanya, karena hanya itu yang bisa membawa ku sampai pada titik seperti ini. 
............

Dan aku sudah berjanji bahwa aku akan melakukan hal yang sama untuk kali ini, bermimpi dan berusaha yang berlebih. walaupun mungkin pada akhirnya nanti jalan dan takdirku bukan menjadi seorang dokter, walaupun mungkin aku akan ditertawai karena bermimpi yang terlalu berlebihan, dan dibilang hanya membuang-buang waktuku saja, karena pada akhirnya aku harus kuliah di fakultas lain, tapi aku ga peduli, karena buatku, bagi mereka yang punya mimpi untuk kuliah di fakultas impiannya, tapi malah memendam mimpinya dengan memilih fakultas lain, hanya untuk tetap berada di jalur aman, akan jauh lebih memalukan daripada gagal di akhir saat kau sudah berjuang mati-matian untuk mewujudkan mimpi fakultas impianmu.

Aku sendiripun, ga bisa memastikan apakah semuanya akan terwujud nantinya, sekarang aku cuma bisa memastikan bahwa aku percaya sama kekuatan mimpi itu, kekuatan mimpi yang yang ga sebatas mimpi, tapi mimpi yang wajib disertai dengan kesungghan untuk bekerja lebih keras, dan lebih keras untuk mimpinya. Karena tanpa ada usaha yang berlebih, namanya, kamu hanya berangan-angan. Dan aku ga mau yang termasuk itu, aku adalah pemimpi, bukan pengangan-angan. Dan satu lagi, mimpi yang ga pernah takut akan resiko, karena mimpi dan keinginan itu sudah satu paket. Berani bermimpi, berani juga untuk mengambil resiko.
…………..

Jum’at itu, aku merasa begitu sakit, sakit sekali. tapi remehan itu tak akan membuatku melangkah mundur, malah membuatku semakin melangkah maju dengan kuatnya, untuk membuktikan padanya bahwa aku tak serendah yang dikatakanya, dan aku semakin sadar, bahwa menggapai mimpi itu tak mudah, butuh perjuangan dan pengorbanan. perjuangan yang penuh dengan kerja keras, dan pengorbanan yang penuh dengan luka batin,, begitulah mimpi. aku hanya perlu mempercayainya, dan berusaha sekeras yang aku bisa.

Komentar