Secuplik Masa Laluku


Dia, dia yang pernah hadir dalam hidupku, membuka hatiku, mengisinya dengan sejuta kebahagiaan, tapi, dia juga yang mengahancurkannya
Ditempat ini aku harus kembali seperti empat tahun yang lalu, empat tahun dimana semuanya berawal, masa-masa bahagiaku bersama dia, tapi sayangnya semua itu kini sudah berakhir, tapi kenangan dan memori itu masih saja tersisa dalam otakku. Padahal saat semua itu berakhir ingin rasanya aku membuang semua kenangan itu, tapi aku belum bisa, bahkan sampai saat ini, dan ternyata hatiku berkata, bahwa aku menikmati kenangan-kenangan itu, dan ingin ku simpan sampai suatu saat nanti, entah sampai kapan….
Walau saat aku mengingatnya rasanya sakit…
Tapi aku menikmatinya
Empat tahun yang lalu, Saat itu aku baru duduk di kelas 7, masa-masa itu amat membawa perubahan besar dalam hidupku, aku merasa menjadi remaja seutuhnya, terlebih lagi saat aku baligh, aku merasa ada yang berubah dalam diriku, aku jadi senang berteman dengan lawan jenisku, dan jadi sering bersosialisasi dengan mereka, hal yang ga pernah aku lakukan sebelumnya,,
Masa-masa kelas 7, mungkin bisa dibilang semua perasaan-perasaan itu muncul, perasaan menyukai seseorang, sebelum itupun aku pernah mengagumi seseorang sewaktu aku SD, dan mungkin aku masih mengaguminya sampai saat itu, tapi ketika aku berteman dengan teman laki-laki di sekolahku, ternyata mereka ga hanya mempunyai perasaan teman, ternyata mereka juga menyukaiku, tapi sewajarnya anak-anak SMP aku menanggapinya dengan biasa, menolaknya dengan memberikan sejuta pengertian pada mereka, bahwa aku ga bias, tapi sebenernya mungkin saat itu aku juga memiliki perasaan yang sama, tapi sampai saat inipun mereka ga pernah tahu bagaimana perasaanku ketika itu..
Dan hari itu, aku bertemu dia temen temen sepengajianku ketika aku SD dulu, tepatnya ketika aku duduk di kelas 5 SD dulu,  waktu itu dia seneng banget ngejek aku, akupun juga jadi suka ngejek dia, akhirnya kita main kejar-kejaran, dan entah mulai darikapan dia sering nitip salam buat aku, awalnya aku ga percaya, senekat itukah? Awalnya aku ilfil, dan memilih mengacuhkan dan bersikap diam, tapi dalam diamku , sebetulnya aku juga menikmati rasa perhatiannya. Tapi itu ga berjalan lama, karena aku berhenti dari pengajian itu, akhirnya semuanya seperti angin, pergi entah kemanaa…
Sampai dua tahun kemudian, aku bertemunya lagi ditempat ini dan semuanya benar-benar sebuah kebetulan, ditempat itu dia memulai pembicaraannya dengan ku, dan akhirnya kita ngobrol layaknya temen deket yang sudah lama tak berjumpa, dan tahukah engkau bagaiman hatiku saat itu? Hatiku ternyata ikut tersenyum bahagia J
Akhirnya pertemanan ku terus berlanjut, sampai suatu saat aku menerima telepon dari temanya dia, saat itu aku bener-bener kaget darimana temennya dia tahu nomer telepon rumah ku, dan begitu nekadnya dia menghubungiku, dan mungkin itu adalah telepon pertama ku dari seorang temen laki-lakiku. Komunikasi kita pun terus berlanjut, dia juga bilang, bahwa dia menyukaiku, tapi tetep, aku hanya menganggapnya teman, sampai suatu saat aku mengalami konfik dengannya, dan sejak saat itu, aku malah lebih dekat dengan dia teman sepengajianku dan semua memori itu masih saja aku ingat..
Setiap aku berpapasan dengannya, dia sering menyapaku dengan sebutan Mutia, dan waktu itu Aku, dan mereka pernah jalan-jalan pagi, waktu itu pun aku masih inget aku dan dia pernah main bultang bareng, dan lucunya lagi, ada anak kecil yang suka ngejek-ngejek aku, padahal aku ga tahu siapa dia, dan baru aku tahu ternyata anak  kecil itu, suka banget sama dia teman sepengajianku, walah walah ada-ada aja..
Dan dia pun ga pernah berhenti nitip salam untukku lewat mba di rumah kakaku, mba ku bagaikan perantara dalam pertemanan kami, akupun jadi sering bercerita tentangnya, sampai pada suatu saat, dia pernah menawarkan aku untuk diantarkan pulang, tapi aku menolaknya, dia pun pernah maghrib-maghrib telepon kerumah cuma nanyain gimana kabarku, karena kata mbaku, aku sakit, dan masih banyak kejadian-kejadian yang sederhana yang terjadi antara aku dannya, yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna dan bahagia…
Tapi selama kita berteman, kita ga pernah ngobrol bareng, kerena semuanya lewat perantara Mba ku, bahkan saat aku bertatap muka dengannya saja, aku jadi mendadak kaku,
Dan yang ga akan pernah aku lupa, sebuah kejadian yang menurut ku bener-bener nekad. Hari itu malem minggu, saat itu aku sedang bersantai dirumah, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam, dan dari kedengarannya itu suara laki-laki, kakaku dia bilang ada tamu buat ku, aku kaget dan penasaran siapa tamu itu, kaka ku bilang itu dia, aku bingung dia siapa, karena tidak ada teman sekolahku yang ingin bermain kerumah. Dengan segera aku melihat siapa tamu itu, dan ternyata itu dia.. aku spitchles, semua rasa campur aduk, dan saat itu dia Cuma nanya “Mutia, ko ga pernah main ke TS lagi?” haha ngakak banget coba…
Yang jelas dia adalah laki-laki pertama yang pernah datang kerumahku.
Dan kedatangannya itu membuat aku bener-bener merasa bahagia J
Kehadirannya bagaikan sebuah hujan bagi tanah yang dibasahinya, membawa kebahagiaan dan kesejukan seperti juga dalam hidupku. Dan aku berharap semoga pertemanan antara aku dan nya, akan terus berjalan sampai kapanpun…
Dan selama aku berteman dengannya sedikit yang aku tahu tentangnya, dia anak tunggal yang hidup dalam keluarga yang rapuh, ibu dan bapaknya telah lama berpisah, dia juga terlahir dengan takdir tidak memiliki pengetahuan yang lebih dalam beragama, karena yang aku lihat, ibunya belum terlihat menggunakan kerudung. Akhirnya karena itulah, pergaulannya juga tidak sebaik pergaulan teman-teman ku yang lain, tapi yang aku tahu dia juga senang bermusik,
Ya itulah sekilas tentang hidupnya yang aku tahu, dan karena itu, aku ingin membantunya sebagai teman yang baik, aku ingin bisa memberikan motivasi  agar dia bias terus memperbaiki dirinya, dalam hal apapun terutama agamannya, oleh karena itu, kita semakin terus berkomunikasi sampai akhir kenaikan kelas 8, dan ternyata ada sesuatu hal yang terjadi saat itu, menjadi awal perpisahan yang tidak pernah kuduga…
Saat kenaikan kelas, aku berlibur ke Yogyakarta bersama kaka pertama ku, dan selama didalam perjalanan aku mengirim pesan padanya, untuk sedikit mengurangi rasa bosanku selama dalam perjalanan, tapi sayang dia tak kunjung membalas pesan singkatku, saat itu entah kenapa aku bener-bener jengkel, tapi itu ga bertahan lama, karena akhirnya dia membalas pesan ku juga, tak lama setelah itu, dia mengirim pesan padaku sesuatu yang ga pernah aku duga
Pesan itu bilang, bahwa dia menyukaiku dan ingin memiliki hubungan denganku lebih dari sekedar teman biasa,
-aku terus membolak-balik pesan itu dengan senyuman J-
Disuasana yang tenang, dan menyejukan, aku begitu menikmati moment itu,  menikmati saat-saat indah remajaku, merasakan bagaimana ada seseorang yang menyatakan perasaannya padaku, apalagi orang itu adalah dia yang kau harapkan..
Tak hanya itu, dia juga meyakinkanku dengan telepon langsung, karena aku terlalu sibuk apa yang harus aku balas, hingga aku tak sempat memabalasnya..
Dan ini balasanku…
Aku merasa kita masih terlalu muda untuk itu, oleh karena itu lebih baik kita berteman seperti sebelum-sebelumnya…
Begitu lama aku menunggu balasannya, dan setelah aku menolaknya, dia tak pernah lagi datang dalam hidupku, bahkan hanya sekedar menanyakan kabarku..
Tahukah kau bagaimana perasaanku saat itu?
Aku merasa kebahagiaanku hilang separuhnya setelah dia pergi meninggalkanku
Hari-hari semakin berlalu, namun perasaan ku tak mudah berlalu begitu saja, saat itu aku baru sadar, bahwa aku terluka, bahwa aku menangisi kepergiannya, aku merindukannya, aku tak merasa bahagia lagi, setelah dia pergi dalam hidupku….
Tuhan, salahkah aku padanya? Begitu besarkah perasaan kecewanya padaku saat aku menolaknya? Sehingga dia menjauh dan tak pernah lagi hadir dalam hidupku?
Jika memang aku begitu membuat dirinya terluka, tolong sampaikan padanya maafkan aku, karena hanya itu yang aku fikirkan, aku hanya berfikir bahwa hubungan seperti ini akan lebih baik, jika kita berteman seperti ini, karena aku berbeda, aku tak bisa melakukan itu, dan tolong sampaikan juga, bahwa saat itu, aku juga memiliki perasaan yang sama sepertinya, tapi sebelum kau sempat menanyakan bagaimana perasaanku, kau malah pergi tanpa jejak. tak pernah memperdulikan aku lagi, dan itu benar-benar menyakitkan…
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan sampai saat ini, mungkin aku juga masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu, tapi aku sadar kau tak lagi memiliki perasaan yang sama sepertiku, dan aku baru benar-banar sadar, bahwa kau tak benar-benar menyukaiku.
Karena jika kau benar memiliki rasa itu, kau tak akan pernah meninggalkanku, apapun yang aku lakukan terhadapmu, apalagi hanya penolakan, yang tak pernah kau tanyakan mengapa alasannya..
Aku merasa begitu kehilangan dirinya, dan seseorang bilang, mungkin aku mencintainya, namun aku tak mau mengukuhkannya, karena perasaanku saat ini sudah tak akan lagi berguna, karena cinta ataupun enggak semuanya udah terlambat, dia udah pergi…
Saat aku membuka kenyataan bahwa dia sudah tak bersamaku lagi, aku harus mengutkan perasaanku, aku harus bisa menghapus air mataku sendiri, saat aku mengingat semua kenangan aku dan dia, aku harus mengrungkan keinginanku untuk suatu saat nanti bisa menjelaskan semunya…
Aku mencoba melupakannya, tapi semakin aku melupakannya, semakin aku sulit untuk menghapus bayang dirinya dalam ingatanku, akalku, terus mencoba memberikan perngertian pada hatiku, dengan sejuta peremehan tentang dirinya. Saat aku merasa ingin kembali seperti dulu, akalku selalu berkata bahwa  tak ada hal yang bisa dibanggakan darinya, dia bukan laki-laki yang pandai dalam pendidikan, dia bukan laki-laki yang rajin beribadat, dia juga bukan laki-laki yang tinggi dan sangat tampan, bahkan diusianya saat ini, dia sudah menghirup barang yang begitu aku benci. dan takdir hidup antara aku dannya juga bagaikan air dan minyak, latar belakang hidupnya terlalu berbeda jauh dengan diriku.
Tapi semua itu tak begitu membuahkan hasil, karena bahkan setelah empat tahun dia meninggalkanku, dan usahaku untuk benar-benar melupakannya, benteng pertahananku runtuh saat aku kembali bertatapan mata dengannya karena tak disengaja, dan dengan tanpa rasa bersalah perasaan itu harus kembali hadir, rasa itu harus kembali datang, rasa bahagia, kecewa dan pengharapan..
Percuma, semua rasa itu, karena aku tak mampu berbuat apapun,,,
Tak mampu membuat hubunganku dengannya membaik seperti dulu…
Tapi mungkin dengan tulisan ini, bisa sedikit mengobatiku, karena aku tak tahu harus bagaimana meluapkan semua perasaan ini,
Angin, bantu aku untuk membawa baunya pergi dari bauku
Hujan, bantu aku untuk menyapu semua jejak yang pernah dia tinggalkan dalam hatiku
Matahari, bantu aku untuk terus memancarkan kebahagiaan, selalu setia menatap masa depan dengan lebih baik
Pelangi, bantu aku untuk merasakan kembali rasa-rasa bahagia itu..










Komentar