Dan kulukis pelangi
Kemenangan hari ini bukanlah kemenangan hari ini
Kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagaln esok hari
Tak ada yang jatuh dari langit dengan Cuma-Cuma
Semua usaha dan doa
Kebenaran hari ini bukanlah kebenaran saat nanti
Kebenaran bukanlah kenyataan
Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
Usah kau menangisi hari kemarin
Hidup adalah perjuangan
Bukanlah arah dan tujuan
Hidup adalah perjuangan
Aku sampai pada keadaanku yang sekarang adalah perjuangan. Dan selama nafas ini masih berhembus, selama itu pula aku, dan semua manusia, akan terus berjuang. Berjuag da terus berjuang. Kehidupan didunia adalah sebuah perjuangan tanpa henti. Sejak lahir hingga akhir hayat, semua dari kita ini berjuang. Tengok saja seorang bayi bejuang untuk membiasakan diri dengan lingkungan asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya, seorang ibu berjuang untuk mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang tangguh, seorang ayah berjuang mati-matian untuk menafkahi keluarganya, seorag pelajar berjuang untuk meraih ilmu, yang miskin beerjuang untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak, yang sedang jatuh cinta berjuang untuk menahan rasa rindu, yang baru berjilbab berjuang untuk tidak tergoda dan membuka jilbabnya, suami istri berjuang mengarungi bahtera rumah tangga, yang kena musibah atau yang ditinggal oleh orang yang dikasihi berjuang dengan sabar dan tabah menjalani kehidupannya. Dan setiap hamba Allah berjuang untuk kembali kepada-Nya, menyebarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk bumi.
Lihatlah semua manusia berjuang! Dengan memahami bahwa kehidupan adalah perjuangan, kita akan tepat dalam menyikapi setiap episode yang datag silih berganti dalam hidup ini. dengan memaknai hidup ini adalah perjuangan, tak ada lagi waktu yang terbuang percuma karena setiap waktu sungguhlah berharga.
banyak orang mengatakan kepadaku “oki, sekarang udah sukses ya” “ kamu udah berhasil sekarang, kamu hebat..” dan ungkapaan senada lainnya
Mata manusia yang kecil memandang apa yang kualami ini adalah sebuah kesuksean. Padahal ia tidaklah kekal abadi, senang, tangis-tawa, semua digilirkan oleh Allah. Allah masih terus mengujiku samapi akhir kehidupan ini, Allah menjadikan manusia sebagai tematnya untuk mengaji
Setiap orang memilki ujian-ujiannya tersendiri. Ada saja kerikil yang membuat dirinya terjatuh berkali-kali. Baru mulai berdiri, jatuh lagi..terus seperti itu sampai akhirnya ia digaris finish, dengan tejatuh itulah kita belajar dan memahami banyak hal dalam hidup.kisahku ini tidaklah sebarapa dibandingkan dengan kisah-kisah hebat lainnya
Diawali dengan keputusanku untuk berhijrah dan memilih untuk berjilbab, satu per satu Allah membukakan jalan bagiku untuk semakin mendekatinya. Begitulah janji Allah. Allah berjanji, ketika kita mendekat sejengkal, Allah akan mendekat sedepa, ketika kita mendekat sedepa, Allah bergerak mendekat sehasta, dan pada saat kita mendekat sambil berjalan, Allah mendekati kita dengan berlari.
Saat aku memilih menuju Allah, Allah karuniakan ketertarikan kepadaku untuk mempelajari islam lebih mendalam. Dulu aku paling malas mendengarkan ceramah dan membaca buku-buku islam. Tak ada sedikitpun ketertarikan untuk mempelajari agama yang kuanut ini. islamku hanya islam ktp. Shalatku, mengajiku, puasaku hanya sekedar ibadahku untuk menggugurkan kewajiban yang berlalu begitu saja. Aku tahu Allah adalah tuhanku, nabi Muhamad adalah Rasulku, namun karena ketidakkenalanku, menyebabkan aku tidak menempatkan Allah dan Rasul-Nya pada posisi teratas dalam hatiku
Dulu aku paling heran dengan orang-orang yang bisa menangis terseudu-sedu ketika sedang salat. Aku heran mengapa air mata oarang lain bisa mengalir deras ketika sedang berzikir atau membaca Al-Qur’an. Lambat laun aku heran kepada diriku sendiri mengapa aku justru tidak bisa menangis dalam hal-hal seperti itu. Pada akahirnya aku menangis karena menangisi diriku yang tidak bisa menangis… aku menangisi diriku yang tak tersentuh sama sekali dengan ayat-ayat Allah.
Hari-harikupun berisi rintihan, “berikan aku ketertarikan untuk mempelajari agama-Mu ya Allah”
Hari demi hari Allah menuntunku. Sampai kemudian aku berhijrah. Aku berpindah dari sesuatu yang buruk mejadi keadaan yang lebih baik. Kurasa semua orang pasti ingin berhijrah, karena setiap manusia fitrahnya adalah baik. Berpindah kea rah yang baik pastilah tak lepas dari perjuangan dan pengorbanan. Keduanya adalah sahabat karib yang senantiasa berjalan beriringan. Ada begitu banyak peluh dan air mata yang harus dikeluarkan,
Dengan berhijrahnya aku, yang kuawali dengan berjilbab, aku benar-benar tak menyangka bahwa aku bisa kembali menjadi artis. Setelah tiga tahun lamanya aku melupakan dunia entertainment dan memilih untuk mendekatkan diri kepada Allah, ternyata Allah berkehendak lain. Allah mengabulkan keinginanku yang dulu, pada waktu yang berbeda bukan aku yang dulu yang selalu memakai pakaian terbuka sana sini. Tapi, aku yang sekarang telah berjlbab
Pada saat kenikmatan dunia sudah tidak berarti apa-apa lagi dimataku, karena kehidupan islam jauh lebih indah dan membawa kedamaian yang luar bisa untukku, Allah berkata lain. Allah letakan aku diposisi ini. siapa sangka, si figuran yang kemana-mana naik angkot, ojek, bajaj, si figuran yang tidak pernah dipandang sedikitpun oleh orang-orang, ternyata bisa menjadi bintang utama dalam sebuah megafilm bernuansa islam yang justru membuat aku semakin dekat dengan rabb ku
Bila aku melihat kembali kebelakang, betapa tertatihnya aku ketika mencari hidaya demi hidayah yang Allah berikan padaku. Rasanya sungguh merugi diri ini bila kembali pada kehidupan jahiliahku. Allah berikan hidayah kepadaku dengan menggerakan hatiku untuk ikhlas berjilbab dan berusaha untuk meuju kepadanya. Kemudian Allah menguji kesungguhan hatiku dengan hinaan orang-orang, kehilangan pekerjaan, dan penyakit ibuku yang begitu menakutkan, sampai Allah akhirnya memperlihatkan kehidupan yang penuh dengan keberkahan untukku
Kehidupanku kini baik, sangat baik dan bahagia. Meski terkadang aku masih dilihat aneh dengan pakaian ini, atau malah sebaliknya, terkadang dibilang “ih, alim banget” untuk yang satu ini aku sering mengamini dalam hati, karena aku tahu aku belum sebaik itu
Tugasku kini adalah menjaga hidayah yang sudah Allah anugerahkan kepadaku dan berdoa agar Allah terus memberikan hidayah-hidayahnya kepadaku, kepada semua hamba yang mencintainya, agar dimudahkan dalam menerima kebenaran…agar dilapangkan dadanya dalam mejalankan agama ini. sungguh hidayah itu mahal harganya
Ya Allah, wahai dzat yang mebolak-bailkan hati, tetapkanlah hati kami diatas agamamu, diatas ketaatan kepada-Mu. Amin ya rabb al-‘alamin
Aku teringat hadis nabi Saw yang mengatakan, “hijarah itu tidak akan pernah selesai hingga kesempatan bertobat terputus. Dan tobat tidak akan pernah habis hingga matahari terbit dari ufuk barat.
Sampai aku menuliskan baris-baris kalimat ini, aku masih terus melukis pelangiku. Warna-warni pelangi akan terus menyertai hidupku…melukiskan sketsa penuh cerita. Hijrahku beum selesai, lukisan pelangiku belum usai, ketika diakhir hayat aku mampu menghadap-Nya dengan husnul khatimah, meraih ketenangan saat ruh meningglkan raga, itulah saat perjalanan hidupku telah berakhir, dan saatnya aku menuai
Diawali dengan aku berhijrah, dengan jilbab yang melekat dikepalaku ini, ternyata aku telah mampu membiayai sekolah adik-adiku dan garasi rumah kami telah selesai.. komplet dengan pagaranya. Aku bisa mengelilingi bumi Allah, secar gratis dan banyak mendapatkan ilmu didalamnya. Satu demi satu pekerjaan baik datang kepadaku. Allah memberikan orang-orang baik disekitarku, dan Allah membiarkanku merasakan nikmatnya yang paling besar… nikmat iman dan islam. Nikmat yang mengantarkanku, mengantarkan setiap manusia, untuk terus bersemangat memperbailiki diri dan berusaha tertatih-tatih untuk menuju sang penciptnya,. Nikmat yang menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah seorang musafir yang perjalanannya akan berakih pada dua tempat: surga dan neraka….
Sungguh indah sekali kurasakan bila hidup dengan naungan ilahi… sebab perjalanan panjang yang kuharap berakhir pada pertemuanku menatap ajah Allah yang kekal abadi….
Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan[ ]
Komentar
Posting Komentar